Generasi Penerus Masa Depan

by -59 views

Ditulisan sebelumnya kita telah membahas tentang film 2 Garis Biru, nah kali ini kita akan ngebahas tentang generasi penerus masa depan. Berbicara masalah generasi maka tak jauh-jauh dari pemuda, yang dimaksud dengan pemuda itu siapa sih? Yukk simak penjelasan berikut.

Dalam perspektif Islam pemuda digambarkan sebagai sosok pejuang yang kuat, pemberani dan memiliki ghiroh yang tinggi dalam memperjuangkan Islam. Sebagaimana dizaman Rasulullah, Islam telah melahirkan beberapa sosok pejuang Islam seperti;

Al Arqam bin Abil Arqam (16 tahun). Beliau menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

Zubair bin Awwam (15 tahun). Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

Zaid bin Tsabit (13 tahun). Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun). Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Rasulullah.

Nah yang lebih fenomenal lagi adalah sosok pemuda yang saat itu beliau masih berumur 12 tahun sudah diangkat sebagai Sultan. Dan disaat umurnya beranjak 21 tahun beliau telah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Dialah sosok Sultan Muhammad Al Fatih selain merupakan panglima perang beliau juga memiliki kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa.

Berkaca dari sosok pemuda yang digambarkan didalam Islam, maka bila kita sandingkan dengan sosok pemuda dizaman milenial saat ini sungguh sangat jauh berbeda. Adanya pergeseran peradaban Islam yang tergantikan dengan peradaban barat menjadi salah satu faktor betapa rusaknya pemuda saat ini.

Kenapa rusak? Sebab dari peradaban barat inilah cikal bakal munculnya paham sekularisme. Sekularisme itu apa sih? Nah, sekularisme ini adalah sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Contohnya kayak gini, kita rajin sholat, puasa tapi disisi lain kita pacaran, kita nge-drugs dan bahkan sampai melakukan seks bebas.

Dan bahaya dari sekularisme ini, dia akan senantiasa menjadikan kita ‘budak’ dalam melakukan tindak kejahatan. Karena sekularisme ini akan membuat kita terus-menerus melakukan kemaksiatan. Tentu hal ini sangat berbahaya sekali bagi aqidah kita sebagai umat Islam, apalagi bagi pemuda yang menjadi aset penerus bangsa dan agama.

Kementerian Kesehatan pada 2009 pernah merilis perilaku seks bebas remaja dari hasil penelitian di empat kota: Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya. Hasilnya, sebanyak 35,9 persen remaja sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual pranikah.

Kemudian, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,1 juta orang dan itu terbesar di Asia. Dari jumlah itu, 40% diantaranya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. “Ada yang penasaran lalu mencoba, ada yang sudah berapa kali terus ketagihan, dan ada yang sudah kecanduan lalu jadi bandar. Yang coba-coba pakai saja jumlahnya hampir 1,2 juta orang.” (sumber: Sindonews.com)

Ini adalah data-data para remaja yang awalnya pacaran lalu melakukan seks bebas serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Miris bukan? Saat masa muda seharusnya kita mengisi ruh kita dengan mengkaji Islam namun justru kita memilih untuk tenggelam dalam kemaksiatan.

Lantas siapa yang rugi? Tentu diri kita sendiri. Tidak hanya kehilangan masa depan tetapi juga mencoreng nama baik keluarga selain itu dapat dosa pula, na’uzubillahiminzalik.

Maka dari itu untuk menghindari paham sekularisme yang tak mengenal halal dan haram jalan satu-satunya adalah menjadikan Islam sebagai aturan hidup kapanpun dan dimanpun kita berada. Sebab, Islam tak hanya sekedar agama spritual saja tetapi Islam juga merupakan sebuah ideologi yang memiliki seperangkat peraturan untuk mengatur kehidupan kita.

Nah, karena kita sudah paham bahaya dari sekularisme maka bagaimana sih kiat-kiat kita membangun qiyadah fikriyah yang sesuai dengan Islam?

Pertama, meluruskan aqidah kita. Aqidah atau keimanan inilah yang akan membentuk cara pandang kita tentang kehidupan, alam semesta serta apa-apa sebelum dan sesudah kehidupan.

Kedua, kita harus memahami bahwa islam adalah sebuah ideologi. Dikatakan sebuah ideologi karena dia punya fikrah (sekumpulan ide atau pemikiran) dan thoriqoh (cara atau metode untuk menjalankan fikroh tadi).

Ketiga, kita juga kudu paham nih sama paham-paham yang berasal dari luar Islam. Artinya jika kita mengadopsi paham ini maka taruhannya adalah aqidah kita. Paham seperti apa saja? Ada sekularisme, liberalisme, hedonisme, dan masih banyak lagi. Paham-paham seperti ini yang tidak diajarkan dalam Islam karena paham-paham tersebut berasal dari peradaban barat.

Keempat, jika kita sudah memahami ketiga poin diatas maka qiyadah fikriyah Islam itu akan terbentuk dengan sendirinya. Disamping itu pula dengan memperbayak tsaqofah Islam, serta mengkaji Islam secara rutin dan kontinyu.

Oleh karna itu untuk menjadi generasi penerus masa depan untuk Islam seperti yang digambarkan melalui sosok-sosok pejuang islam sebelumnya, kita harus memperdalam ilmu agama serta taat dan patuh terhadap perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Sebab pemuda adalah agent of the change, generasi yang mampu membawa perubahan untuk bangsa dan agama.

Al Arqam bin Abil Arqam, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, Thalhah bin Ubaidullah serta Sultan Muhammad Alfatih adalah Kisah yang tak terhitung dalam goresan sejarah Islam. Cukuplah hal itu sebagai pengingat keagungan pemuda dalam masyarakat Islam. Semoga Allah membimbing kita dan anak-anak kita menjadi pemuda Islam yang tangguh, tentunya menjadi generasi pejuang penerus masa depan tegakknya Islam.

[Hamsina Halisi Alfatih]
Wallahu A’lam Bishshowab

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.