Hukum Plin-Plan Terhadap Pelaku Pedofil

by -33 views

Masih membekas dalam ingatan kita, beberapa tahun lalu tepatnya 17 April 2015 terjadi kasus dugaan pelecehan seksual oleh kayawan dan guru di sekolah Jakarta Internasional School (JIS) terhadap anak didiknya. Kasus ini bermula dari beberapa laporan orang tua dari murid korban, atas kasus dugaan tindakan sodomi ini akhirnya pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

Namun beberapa hari yang lalu kita dikejutkan oleh pemberitaan yang menyatakan terpidana kasus pelecehan seksual yang juga mantan guru Jakarta Internasional School (JIS) Neil Batleman telah bebas, pada tanggal 21 juni 2019. Neil dibebaskan karena mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo berdasarkan keputusan Presiden Nomor 13/G tanggal 19 Juni 2019. Berupa pengurangan pidana dari 11 tahun menjadi 5 tahun 1 bulan dan denda pidana senilai 100 juta (kompas.com, 12/7/2019).

Dalam Undang-Undang (UU) no 17 tahun 2016 tentang penerapan Perppu no 1 tahun 2016 menyebutkan para predator seks dihukum minimal 10 tahun penjara dan maksimal 20 tahun bahkan bisa ditambah hukuman seumur hidup hingga hukuman mati dan ditambahkan kebiri lewat suntik kimia. Pada kenyataannya penguasa mengabaikan UU ini dan masih mengimplementasikan UU 35 tahun 2014 yang hukumannya hanya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

Padahal jika UU no 17 tahun 2016 ini diterapkan sejak awal tidak akan terjadi tindak kejahatan yang terjadi secara berulang karena akan memberikan efek jera terhadap pelakunya, serta mampu memutus rantai kejahatan. Tapi sebaliknya pelaku pedofil justru diberikan grasi, ini bukti rezim tidak serius menyelamatkan generasi. Dan bukti negara lemah menghadapi kriminal terutama warga negara asing.

Lemahnya hukum dan lambannya pengusutan kasus pelecehan seksual tidak pernah tuntas dan selalu berujung pada ketidakadilan terhadap korban, dan kasus ini selalu dianggap sepele. Dengan melepaskan pelaku pelecehan seksual akan memberikan peluang bagi pelaku lainnya untuk melakukan hal yang sama, sehingga semakin maraknya kasus pedofil.

Padahal faktanya korban pelecehan fisik mengalami trauma yang lebih besar dibandingkan kekerasan pelecehan verbal. Korban cenderung tertutup, sulit beradaptasi, bermuatan energi negatif dan sensitif. Selain itu, frekuensi dan durasi terjadinya pelecehan seksual juga berpengaruh terhadap dampak yang ditimbulkan sampai dengan dewasa. Semakin sering frekuensinya maka trauma yang ditimbulkan pada anak juga semakin besar, dalam pemulihan juga membutuhkan waktu yang lama.

Pedofilia merupakan penyakit menular yang membahayakan moral dan kualitas generasi masa depan. Secara psikologis ketika dewasa akan bermasalah terkait hubungan dengan lawan jenis. Pandangan mereka jadi negatif terhadap lawan jenis. Anak tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Apalagi jika tidak mendapat penanganan yang baik dan kurang penanaman agama tidak menutup kemungkinan kelak dirinya akan mempraktikkan tindakan tersebut alias menjadi pedofil. Korban akan terjerumus kepada pergaulan bebas yang mendasar pada perilaku seks menyimpang. Akibatnya terjadi penyebaran penyakit kelamin hingga HIV dan penyakit AIDS.

Islam dalam Melindungi Generasi Dengan Menerapkan Hukum-hukum Pencegahan Dini.

Islam bukan sekedar agama yang hanya sebatas ibadah ritual saja namun Islam juga mampu menyelesaikan problematika kehidupan, termasuk dalam menyelamatkan generasi dari kejahatan seksual. Hal ini telah diatur dalam syariat Islam yang bersumber dari Allah dan Rasulullah. Dalam mencegah dan menangani kejahatan seksual, Islam mengharamkan menampakan aurat, melihat aurat sesama jenis maupun lawan jenis yang tidak halal, khalwat, ikhtilath, pacaran, zina, hingga perbuatan homoseksual. Pelanggaran terhadap hal ini akan dikenai sanksi keras.

Khilafah menerapkan Sistem Pendidikan Islam, dengan kurikulum dan teknis penyelenggaraan pendidikan diatur berdasar Syariah Islam. Kurikulum pendidikan dasar difokuskan untuk menanamkan dasar-dasar agama dengan pemahamkan aqidah, akhlaq, fiqih dan penguasaan terhadap Al-Qur’an. Tujuan dari sistem pendidikan dalam negara Khilafah adalah untuk mencetak generasi yang memiliki syakhsiyyah Islamiyyah (kepribadian Islami), yakni generasi bertaqwa kepada Allah.

Sistem Informasi dan Komunikasi diatur atas dasar Syariah Islam sehingga konten dan tayangan yang mengandung unsur umbar aurat, pornografi, perzinaan, dan berbagai pelanggaran Syariah lainnya akan disensor sehingga tidak dapat diproduksi apalagi diakses oleh publik. Umat wajib untuk beramar ma’ruf nahiy munkar, maka setiap individu, kelompok, hingga korporasi wajib untuk melakukannya.

Dalam Islam pelaku pedofil dalam bentuk sodomi, meski korban tidak sampai meninggal, akan dijatuhi hukuman mati. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

“Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Jika kekerasan seksual terhadap anak dalam bentuk perkosaan, maka pelakunya jika muhshan (sudah menikah) akan dihukum rajam sampai mati. Sedangkan jika ghayr muhshan (belum menikah) akan dicambuk seratus kali. Jika pelecehan seksual tidak sampai tingkat itu, maka pelakunya akan dijatuhi sanksi ta’zir, yang bentuk dan kadar sanksinya diserahkan ijtihad Khalifah dan qadhi (hakim).

Dalam pelaksanaan sanksi/hukuman dilakukan secara terbuka, dilihat oleh masyarakat dan segera dilaksanakan tanpa penundaan lama. Dengan demikian pelaku kekerasan terhadap anak tidak akan bisa mengulangi tindakannya. Anggota masyarakat lainnya juga tercegah dari melakukan tindakan kejahatan serupa.

Dengan penerapan Islam secara kaafah akan mampu mencegah dan menyelesaikan permasalahan kasus kekerasan/kejahatan seksual. Karena syariah Islam adalah sistem yang yang berasal dari Allah serta membawa manusia kepada rahmatan Lil’aalamin. [Iin Susiyanti, SP]

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.