Menakar Bobot “Keyakinan”

by -55 views

Kata “yakin” menurut KBBI artinya adalah percaya (tahu, mengerti) sungguh-sungguh, merasa pasti (tentu, tidak salah lagi). Maka “yakin” adalah level diatas sekedar “percaya”. Yakin akan sesuatu menyebabkan kita bertindak sesuai dengan apa yang kita yakini.

Berbeda halnya kalau sekedar percaya, tidak sampai pada taraf yakin. Maka jika hanya percaya tidak akan menggiring pada sikap dan perbuatan yang sesuai dengan apa yang dipercayai.

Memperhatikan dan mengamati kondisi masyarakat sekarang tentang sikap dan pandangannya terhadap kehidupan, darimana berasal? Untuk apa hidup? Dan kemana tujuan akhirnya? Maka sebagian masyarakat hanya sekedar percaya bahwa akan ada hari pertanggungjawaban kelak, tidak sampai pada level haqqul yakin. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan pola sikapnya tentang kehidupan.

Diantara kejadian-kejadian yang menggambarkan masyarakat hanya sekedar percaya seperti berikut ini :

Yakinkah bahwa riba itu haram? Yakin, tapi mengapa muamalahnya masih berhubungan dengan riba?

Yakinkah bahwa seluruh perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban? Tidak akan luput sedikitpun dari auditor akhirat? Yakin, tapi mengapa masih berbuat seenaknya seakan kalau tidak ada orang yang tahu merasa aman?

Yakinkah bahwa amar ma’ruf nahi mungkar wajib? Yakin, tapi mengapa masih bungkam melihat kedzaliman?

Yakinkah kalau rezeki Allah yang mengatur? Yakin, tapi mengapa mencari rezeki sampai melalaikan akhirat? Bahkan korupsi merajalela dan merambah semua sektor?

Yakinkah kalau jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak? Yakin, tapi mengapa banyak orang yang mengemis jabatan hingga jungkir balik dan berdarah-darah?

Yakinkah kalau esok di akhirat akan ditanya, masa mudamu dihabiskan untuk apa? Yakin, tapi masih sering melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna dan melalaikan.

Dan yakinkah kalau Alqur’an adalah Kalamullah yang didalamnya terdapat perintah dan larangan, siksa dan pahala, surga dan neraka? Yakin, tapi mengapa hanya mengambil sebagian hukum dan meninggalkan yang lain? Seakan Alqur’an hanya sejarah masa lampau.

Itu semua menggambarkan kalau mereka tidak yakin tapi hanya sekedar percaya, belum sampai pada taraf haqqul yakin.

Keyakinan seseorang terhadap agamanya disebut Iman. Iman dilandasi oleh Aqidah. Aqidah yang kokoh akan melahirkan keimanan yang kuat sehingga mampu mengikatkan semua amal perbuatannya terhadap syariat Allah.

Maka mustahil orang yang yakin terhadap kebenaran hakiki, tingkah lakunya akan menyimpang dari syariat. Berangkat dari keyakinan yang kuat terhadap ajaran Islam inilah akan lahir insan-insan sholih, yang mampu mengikatkan seluruh perbuatannya dengan syariat Islam.
Mereka yakin akan janji Allah terhadap orang-orang yang beriman dan beramal solih, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ٪

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 72).

Begitu pula keyakinan kita tentang akan tegaknya kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwah akan mampu membakar semangat para pejuangnya untuk mewujudkannya. Mereka yakin dengan firman Allah dalam QS. An-Nur 24 : ayat 55

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Semoga keyakinan kita akan janji-janji Allah tidak tergerus dengan dunia yang melalaikan dan penuh tipu daya setan. Mampu menjadikan dunia sebagai ladang untuk akhirat sehingga kita dipertemukan esok di jannah-Nya.

Kita tidak bisa menghindari tipu daya setan tapi kita bisa membentengi diri dari godaannya. [Evi Shofia, Sp]

Wallahu a’lam bisshowab

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.