Pengokoh Hijrah Yang Sesungguhnya

by -32 views

Semakin hari semakin marak terdengar orang-orang yang telah hijrah. Hijrah artinya berpindah dari satu tempat kepada tempat yang baru. Adapun hijrah yang dimaksud disini adalah orang yang meninggalkan perbuatan buruk yang dilarang oleh Rabbnya menuju kepada perilaku yang di ridhai-Nya. Pengaruh energi positif hijrah ini telah mendorong orang lain untuk mengikutinya hingga berpengaruh ke berbagai kalangan, apalagi ketika tokoh besar seperti para artis yang menjadi salah satu tokoh hijrah, tentu ini menjadi energi besar bagi masyarakat untuk mengikuti. Fenomena berbondong-bondongnya orang yang hijrah dapat kita ketahui karena banyaknya kegiatan-kegiatan Islami yang dibuat dan juga para peserta yang hadir sangat membludak.

Alasan hijrah itu sendiri sangat banyak, tergantung dari cara pandangnya dalam memahami makna hijrah itu sendiri. Ada yang karena dorongan orang lain, seperti ikut-ikutan atau karena dorongan yang muncul atas kesadaran dirinya sebagai hamba Allah. Biasanya orang yang hijrah karena manusia ia takkan lama bertahannya karena standar hijrahnya untuk mendapatkan manfaat semata. Ketika manfaatnya hilang maka berakhirlah hijrahnya. Bisa dibilang hijrahnya ini adalah hijrah yang palsu. Adapun hijrah yang muncul atas kesadaran diri untuk mendapatkan ridha Allah biasanya akan bertahan lama, karena ia tau kalau selama ini ia telah jauh dari kebenaran sehingga membuatnya ingin kembali kepada fitrahnya sebagai hamba Allah.

Berpindah atau mengubah kebiasaan awal kepada yang baru tentunya bukanlah hal yang mudah, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, karena ia telah diyakini oleh alam bawah sadarnya yang sifatnya otomatis tapi tetap akan bisa diubahnya dengan berjalannya waktu. Tentu ada proses yang akan dijalani hingga memiliki kemantapan. Hal pertama yang harus diperhatikan tentunya adalah niat awalnya, karena dari niat awal itulah yang mengarahkan jalan baginya kepada sesuatu yang ingin dicapainya. Di dalam sebuah hadist sudah dikatakan bahwa seseorang akan mendapatkan apa-apa yang diniatkan.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Oleh karena itu, hendaknya kita melihat kembali apa yang menjadi niat awal ketika hijrah. Sungguh sangat jelas, hijrah selain karena Allah adalah hijrah yang salah. Bahkan bisa jatuh kepada kesyirikan karena kita telah menggantungkan sesuatu selain Allah.

Ada yang bilang, hijrah itu mudah tapi yang sulit adalah istiqamah, apakah ini benar?. Sebenarnya pernyataan ini tidaklah salah, karena bertahan pada sesuatu yang baru memang butuh usaha ekstra, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya. Kebiasan itu sudah melekat kuat di alam bawah sadar. Tapi tak bisa dipungkiri, kalau kita punya kekuatan untuk mengubahnya, kembali pada pilihan tadi yang diawali dari niat. Nah, jadi untuk membuat kita bertahan dalam hijrah ini sebenarnya apa?

Perlu diketahui, manusia ketika bertindak tentu memiliki dorongam yang sering dikenal dengan motivasi. Motivasi ini terbagi menjadi dua, yaitu motivasi dalam diri dan motivasi dari luar. Motivasi dalam diri bisa kita katakan sebagai kesadaran diri seperti “niat” yang berfungsi untuk membuat kita lebih kuat di dalam hijrah ini. Sehingga untuk meningkatkan motivasi ini harus ditajamkan lagi kesadaran dirinya dengan cara terus mengkaji Islam. Kesadaran hijrah karena Allah ini hendaklah benar-benar muncul dari proses berpikirnya bukan dari perasaannya yang mudah goyah, karena kekuatan iman harus diperkuat dari pemikirannya hingga melahirkan pemahaman dan terbentuklah tingkah laku. Dengan semakin banyaknya pemahaman terhadap Islam, dapat membuatnya terus berpikir kepada sesuatu yang benar.

Hendaknya ia memecahkan terlebih dahulu pemikiran dasar tentang sebelum penciptaan, saat ini dan sesudah kehidupan dengan cara menggunakan pemikiran cemerlang yang mampu melihat sesuatu dibalik dinding. Maksudnya ia mampu melihat sesuatu yang diluar batas inderanya seperti surga yang belum terindera namun dapat kita yakini keberadaannya. Apabila telah terpecah masalah dasar atau pokok ini tentu akan memudahkan baginya memecahkan masalah cabang yang lain. Dengan demikian, akan membuatnya suka rela menjalani hidupnya dengan terikat pada aturan Rabbnya secara sempurna. Pemikiran dasar ini dikenal dengan akidah. Hanya akidah Islamlah yang mampu menjawab pemikiran dasar tadi sesuai fitrah manusia, masuk akal dan menenteramkan jiwa

Begitu pula dengan motivasi dari luar dapat mempengaruhi keistiqamahan hijrah ini, bisa dikatakan motivasi ini adalah dukungan dari pihak lain, seperti teman, keluarga, masyarakat, negara dan lainnya. Tak bisa dipungkiri lingkungan menjadi salah satu pengaruh dalam hidup kita, apabila keadaan lingkungan baik, tentu akan membuat diri kita terdorong menjadi baik, begitu pula sebaliknya. Maka oleh karena itu, kita tidak bisa mengatakan, “Perbaiki saja diri sendiri jangan urus orang lain”, karena memang lingkungan juga mempengaruhi diri seseorang. Lingkungan yang rusak ibarat lumpur yang ada di jalan, sekalipun kita sudah mandi sangat bersih dan pakai parfum, namun ketika kita berjalan tentu lumpur tadi akan terpercik ke tubuh kita. Kemudian bila kita sendiri, itu seperti lidi yang jumlahnya hanya satu yang mana tentu akan mudah dipatahkan, sedangkan bila banyak jumlahnya tentu akan sangat sulit dipatahkan. Tentu hal ini membuktikan kalau kita butuh lingkungan yang saling mendukung dalam kebaikan, dimana masyarakat berperan sebagai pengontrol yang senantiasa ber’amar ma’ruf nahi mungkar dan negara yang senantiasa menjaga akidah Islam itu pada individu dengan cara menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan.

Namun sayangnya, saat ini peran masyarakat dan negara telah hilang dalam sendi-sendi kehidupan, jadi akan sulit bagi individu yang ingin berpegang pada akidah Islam, karena di masyarakat tak ada lagi pengontrolan. Negara juga telah lepas tangan dari tanggung jawabnya. Hal ini terjadi karena sistem yang diterapkan oleh negara bukanlah sistem Islam, tetapi sistem kapitalis-liberalis yang mana telah memisahkan agama dari kehidupan dunia dan menjadikan agama hanya dilaksanakan pada individu saja, kemudian menjadikan aktivitas apapun dengan tolak ukur materi, tentu ini jauh sekali dari fitrah manusia.

Jadi timbul pertanyaan nih, apakah kita tidak akan mungkin bisa istiqamah dalam hijrah ini, karena motivasi luar tidak mendukung? Wah ini pertanyaan yang begitu pesimis, hehe. Jikapun motivasi luar dari peran lingkungan seperti negara dan masyarakat telah hilang, jangan sampai membuat kita takut apalagi mundur dari hijrah ini. Justru seharusnya memicu semangat kita untuk mengembalikan Islam itu sendiri. Jadi, kita bisa mencari dan bergabung bersama jamaah yang sama-sama menginginkan kehidupan islam yang kaffah, untuk menguatkan kita di jalan hijrah yang penuh dengan rintangan ini. Semoga kita bisa mengabdikan diri sebagai pejuang untuk mengembalikan kehidupan Islam kembali secara kaffah dalam bingkai Khilafah.

[Fatma Ulfa Diani]
(mahasiswa UNIMAL jurusan Psikologi)

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.