Penyakit Menjangkit Pada Aktivis Dakwah

by -29 views

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata aktivis dakwah? Wow so pasti keren, soleh sholehah, berani, pantang menyerah, rela berkorban, rajin menabung (ini tambahan), dll. Memang seperti itulah mereka. Berani mendedikasikan dirinya untuk terjun dalam arena tempur dalam aktivitas amar ma`ruf nahi munkar. Tentunya mereka sudah khatam dalam benak bahwa aktivitas dakwah merupakan kewajiban tiap individu. Berbagai status yang melekat pada tiap insan seperti mahasiswa, anak, kakak, adik, dan terlebih hamba Allah tak kan terpisah dengan aktivitas dakwah ini.

Sudah sepantasnya seseorang yang sudah menginjak masa baligh nya selalu mengikatkan diri mereka dengan segala ketentuan hukum syara, apalagi bagi kalian yang menyandang status sebagai mahasiswa, wow ini lahan basah banget buat menyebarkan ajaran Islam dan itung itung melatih kita untuk terus belajar meningkatkan tsaqafah islam kita yaa.

Ga peduli isu yang terus digulirkan pada aktivis dakwah terutama di wilayah kampus. Mereka kurang gaul aja buat meng-update bagaimana gerak kita yang masif untuk meyadarkan umat bahwa tugas dan kewajiban mahasiswa muslim bukan hanya kuliah, ngerjain tugas, kerja kelompok, nonton film di kosan, nongkrong bareng temen, rapat, dll.

Padahal niat kita sangatlah mulia. Tak ada kata aktivis dakwah cuma sok sok an biar dibilang keren atau dibilang alim. Itu salah besar!!!. Kalo kalian tahu dakwah itu melelahkan, bikin sakit hati kalo ditolak sama orang, terbagi waktu yang tadinya bisa tidur atau bersantai harus rela karena ngisi kajian muslimah misalnya. Sayang mas/mbak bro kalo niatan cuma sedangkal itu.

Ok kembali ke laptop. Pada intinya itulah segudang keseruan jadi aktivis dakwah. Bukan hanya pontang panting badan karena dakwah sana sini aja, tapi lelah semuanya terbayarkan dengan pahala yang luar biasa dan otomatis harapan terbesar ketika kita bisa menikmati telaga nirwana suatu saat nanti. Hmm indahnya.

Tapi tunggu dulu nih, masa masa gerak cepat (gercep) dengan segudang amanah dakwah bisa sangat habis dilahap ketika masa kuliah dan sekolah masih aktif. Massanya membludak, tak susah dicari karena telah terorganisir di masing-masing perguruan tinggi dan sekolah-sekolah, dan mudah buat ngundang kajian lewat Lembaga Dakwah Kampus (LDK) atau Rohis di sekolah mereka. Hafal banget yah (pengalaman pribadi).

Nah tapi syarat & ketentuan berlaku. Lihatlah beberapa aktivis dakwah kalo sudah kehabisan lahan dakwah di kampus atau sekolah gara-gara mereka sudah waktunya liburan semester yang otomatis bisa berminggu minggu libur dari dunia pelajaran. Beberapa aktivis dakwah yang merupakan anak rantau, ya sudah alhasil mereka melanjutkan aktivitas dakwahnya di kampung halaman.

Inilah masa masa yang katanya sulit dan melenakan bagi aktivis dakwah. Teman teman, masa liburan bukanlah bermaksud libur dari kegiatan yang Allah telah wajibkan pada Hamba Nya. Katanya dakwah sebagai poros hidup? Ya tentu harus jalani hidupmu diiringi dengan aktivitas dakwah pula. Dakwahkan ayah, ibu, kakek, nenek, dll. Area yang kalian dapat jangkau ya itulah lahan dakwah kalian.

Tertampar benar-benar jika merenungi apa saja yang selama berminggu-minggu ini tengah kita lakukan di rumah? Sungguh malunya jika intensitas dakwah terjun bebas atau jangan katakan jika masa di rumah adalah waktu yang tepat bersembunyi dari kepiluan dakwah ke tengah umat? Meletakkan pikiran kritis, penuh rasa prihatin sejenak di tumpukan bantal dan guling itukah yang dinamakan aktivis dakwah? Semua yang kalian bangun kebiasaan kala di tempat perantauan dengan memperbanyak sholat sunnah, shaum sunnah, meningkatkan tsaqafah islam, dll terhempas begitu saja seperti pasir yang tertutup ombak laut.

Namun yang paling parah, jika sampai diri kalian juga ikut tertutup, bukan oleh ombak laut tapi dengan lingkungan sekitar kalian. Berdiam diri di rumah, bahkan di kamar. Terpana dengan laptop hingga lupa ada makanan terhidang, ada yang butuh bantuan, bahkan ada yang perlu didakwahkan. Jangan ngaku aktivis dakwah kalo tak berusaha kenal dengan dunia luar! So, bagaimana tetangga mengenal dakwah kita? Bagaimana saudara mengenal dakwah kita? Jika tak interaksi apalagi kritisi. Bagaimana mereka tahu siapa kita jika tak ada tatapan apalagi seruan?

Jelasnya tak bisa dan tak boleh menyalahkan ide Islam bahkan agama Islam itu sendiri. Ia datang telah sempurna dan menyempurnakan. Manusia hanya manusia yang hidupnya selalu diselimuti dengan dosa. Tapi, ada label yang terus melekat pada diri kita, yakni aktivis dakwah. Sungguh berat namun tak bisa ditinggalkan sampai kapanpun. Ingatlah teman teman, aktivis dakwah bukan label sembarangan. Jadi dimanapun kalian berada, please remember!!! YUK DAKWAH!!!

Dari Saudari muslim,

[Siti Nur Aisyah, S.Tr.Sos]
Ig: @aisyahghazi1453

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.