Rindu Itu Menyakitkan – Tempatkanlah Rasa Rindu Pada yang Halal

by -104 views

Mengapa ada? Adamu membuatku berfikir dari mana asal muasal terciptanya. Kehadiranmu membuatku ada dan bahagia, walau kini aku tak bisa menatap, namun doaku akan selalu terucap.

Mengapa pergi? Memang sepantasnya begitu. Kepergianmu membuat sakit hati nan sangat pilu. Aku juga tak tahu mengapa perasaanku mengharu biru bila mengenangmu dan selalu terngiang tutur kata nasehatmu.

Rindu, mengapa hatiku selalu merindu? Seakan raga ingin bertemu, tapi ku tau waktu belum setuju dan ku yakin aku akan menyusulmu.

Setangkai rindu yang menggebu menguncup diapit kegelapan, menanti secercah harapan pada akhir kebahagiaan. Rindu ini jangan kau lebaykan. Sungguh tak pernahkah kau rasakan rindu ini untukmu atau hanya untuk-Nya?

Untuk mu wahai ayah bunda yang telah berpulang ke surga, merindukanmu sungguh menyakitkan. Sebab tak dapat lagi kusentuh jemarimu. Tak pula dapat kurasakan belaian kasih sayangmu, yang setiap saat mengelus menjelang pejam mataku. Jemari yang selalu hangat mendekapku yang selalu ada untuk menghapus air mata kesedihanku dan jemari yang memberikan rasa nyaman di kalbu.

Untuknya wahai Rasulullah, rindu ku teramat sangat dalam walaupun hanya kulampiaskan lewat syair sholawatan, mengiba mengharap syafa’atmu. Kulangitkan doa untukmu ya Habiballah. Senantiasa tak berputus asa ku rafalan kidung-kidung kerinduan hanya untuk mu ya Rasulullah.

Rindu ku saat ini hanya menggebu ingin bertemu dengan ukhty-ukhty yang telah memberi tahu apa arti hidup yang sesungguhnya. Ukhty-ukhty yang selalu sabar membimbingku halaqah sepekan selama dua jam. Yang selalu akrab seperti keluarga sendiri, tanpa pamrih untuk membagi ilmu pengetahuan tentang Islam yang kaffah.

Untuk mu wahai para musrifah yang telah sudi meluangkan waktu untuk membimbingku takkan pernah kulupakan atas apa-apa yang telah engkau sampaikan secara gamblang sedetail mungkin dengan gaya bahasamu yang menawan, untaian kata-kata pertama yang selalu terngiang untuk “melanjutkan kehidupan Islam” membuat hati menjadi tenteram dan damai. Namun penuh dengan semangat nan membara untuk jauh melangkah ingin mengetahui lembar-lembar ilmu berikutnya.

Semakin banyak lembar putih yang dikaji ternyata semakin bodoh rasanya diriku ini, sambil menggendong si kecil sambil menyimak bahkan terkadang saat tiba giliran membaca kitab yang kurasa setengah gundul luar biasa gagap penuh dengan semangat. Bayangkan saja, eh jangan cuma dibayangkan, namun cobalah untuk membacanya, bagaimana? Pasti 75 persen bangsa emak-emak akan mengernyitkan dahi sambil geli geram mengejanya.

Allahu akbar, subhanallah dengan semangat empat lima emak-emak yang berusia sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh tahunan yang berkelompok empat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang menyambi ngemban balita dengan semangat yang luar biasa mengkaji kitab putih pertama yang berjudul “Nidzam Islam”. Masya Allah tambah puyeng dah kepala kita berempat.

Puyeng bikin asyik semakin menarik tapi tetap saja kelihatan bodohnya karena belum bisa, membacanya aja pelan-pelan dengan penuh kesabaran yang sangat menguras pemikiran. Kitab pertama bab awal tentang jalan menuju iman (Thariqul Iman), pembahasan pertama membahas tentang aqidah aqliyah yang dalam pemahaman yang saya tangkap ialah proses perubahan pemikiran.

Pemikiran yang menyeluruh dalam tiga telur besar. Soalnya Musrifahnya waktu menerangkannya sambil mengambarkan bulatan besar seperti telur yang intinya pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, dan tentang apa-apa yang ada sebelum dan sesudahnya yang saling berkaitan diantara ketiganya. Maknanya adalah aqidah yang dihasilkan dengan proses berpikir. Masya Allah, makin paham apa nambah puyeng mikirnya, yang jelas ya sedikit tercerahkan.

Setelah itu musrifah melanjutkan dengan tiga pertanyaannya yang mendasar, “Dari mana kita berasal (apakah ada sendiri atau adakah yang membuat/ menciptakan?). Untuk apakah kita hidup di dunia yang fana ini dan akan kemanakah kita setelah kehidupan ini berakhir?
Nah, semakin menarik perhatian bagi saya. Ini saya dapat hanya ada saat saya mengkaji ilmu di Hizm, musrifah saya lebih suka menyebut Hizbut Tahrir muslimah dengan menyebut Hizm.

Wah ternyata baru satu lembar aja udah keren banget, ya gimana ya, namanya juga emak-emak udah pasti nambah wawasan banget. Mana proses berpikir sangat mendalam banget tentang apa yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, apakah kelak kita layak di surga? Sudahkah selama kita hidup di dunia ini tunduk dan patuh pada aturan-Nya , kelak akan di hisab di yaumil hisab.

Menurut saya Hizm itu keren kuadrat. Soalnya kalau menjelaskan masalah akidah keimanan senantiasa mengkaitkannya dengan konsekuensi berakidah keimanan itu sendiri, yaitu konsekuensi mengimani akidah Islam adalah ketaatan pada Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Diterapkannya dalam seluruh aspek kehidupan untuk melaksanakan yang habluminallah dan habluminallahyang bisa langsung dilaksanakan oleh individu masing-masing.

Bagaimana dengan habluminannas, seperti pendidikan, perekonomian, politik dalam dan luar negeri? Nah, yang ini urusan negara yang wajib menerapkan nya. Sampai di sini musrifah menerangkan bab awal tentang jalan menuju iman.

Namun sekarang saya sangat merindukan teman-teman dan para musrifah. Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat serta dimudahkan dalam segala hal, aamiin.

Rinduku teruntukmu wahai para musrifah yang telah rela menyisihkan waktu untuk dakwahmu.

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS Yusuf: 90).

Sahabat tempatkanlah rasa rindu yang tak terlarang. Tempatkanlah pada yang halal.

[By: Ummu Azfah – Purworejo,11 Juli 2019]

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.