Sosok Dirimu Adalah Apa Yang Engkau Pikirkan

by -49 views
Sosok Dirimu Adalah Apa Yang Engkau Pikirkan
Sosok Dirimu Adalah Apa Yang Engkau Pikirkan

Sahabat, kita adalah seperti apa yang kita pikirkan dan kita ucapkan. Dan apa yang kita pikirkan dan ucapkan, itulah yang akan terjadi. Maka berhati-hatilah dengan pikiran dan ucapan kita. Karena apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, itulah yang akan menjadi kenyataan.. Benar, seperti sebuah mantra saja. Hidup kita tiba-tiba saja berubah, baik cepat ataupun lambat, hanya dengan pikiran dan ucapan yang berulang-ulang kita pikirkan dan kita ucapkan…dan tanpa sadar akhirnya menjadi sebuah keyakinan, bahwa kita memang seperti itu…

Saya sudah membuktikan. Dan apa yang sudah saya alami sepanjang perjalanan hidup saya, cukuplah sebagai pembuktian bagi diri saya sendiri, bahwa ungkapan YOU ARE WHAT YOU THINK, adalah benar adanya. Ingin tahu kisah hidup saya? Aah…pasti penasaran bukan ?

Berpuluh tahun yang lalu, tepatnya masa-masa sebelum saya kuliah di akademi keperawatan, saya adalah seorang anak yang sangat pemalu. Saking pemalunya, saya tidak pernah berani menemui tamu yang berkunjung ke rumah, bahkan untuk sekedar membukakan pintu, sungguh, saya teramat malu. Saya merasa canggung, kikuk dan segala macam perasaan yang membuat saya merasa tidak bisa menghadapi orang yang belum saya kenal dengan dekat. Bahkan pernah saya ngumpet selama berjam-jam di kamar kecil gara-gara ada saudara Ayah yang berkunjung ke rumah. Konyol rasanya bila mengenang saat-saat masa itu….?

Waktu itu saya benar-benar meyakini bahwa saya adalah seorang pemalu, tidak pandai berteman dan segala kriteria yang dibutuhkan bagi seorang pemalu, sempurna melekat pada diri saya. Saya selalu gugup dan gagap bila harus maju ke depan kelas. Jantung saya selalu berdegup dengan kencang bila saya ingin mengajukan pertanyaan kepada guru tentang pelajaran yang saya belum paham. Itu sebabnya saya jarang bertanya di dalam kelas. Itu pula sebabnya teman saya hanya satu dua. Saya merasa rendah diri dan tidak berkemampuan. Dan itu pula sebabnya saya waktu itu memilih bercita-cita untuk menjadi pekerja sosial bagi anak-anak cacat.

Saya juga tidak tahu mengapa saya bercita-cita menjadi pekerja sosial bagi anak-anak cacat. Barangkali secara tidak sadar saya ingin merasa lebih unggul. Dan barangkali dengan berada di tengah-tengah anak-anak yang berkekurangan secara fisik itulah maka saya merasa lebih unggul, sehingga harga diri saya menjadi lebih tinggi. Dan saya akan dapat tampil dengan lebih percaya diri. Barangkali pikiran seperti itu yang memenuhi benak saya sehingga saya memutuskan bercita-cita seperti itu.. ????

Alhamdulillaah, Allah yang Maha Sempurna, telah mengatur hidup saya dengan sangat sempurna. Setiap hari saya berdoa memohon kepada Allah, agar saya dapat hidup dengan lebih percaya diri. Saya merasa ada banyak kesempatan yang terlewat gara-gara rasa malu yang membelenggu. Dan saya berusaha keras mengatasi rasa malu saya, dengan mulai membuka diri berteman dengan anak yang supel dan pandai bergaul. Dari sahabat baru itulah, saya banyak belajar, bagaimana harus bersikap dalam pergaulan.

Ah.. sungguh menyenangkan mengingat masa-masa itu. Ada banyak pengalaman baru yang membuka kesadaran saya, bahwa malu itu harus kita letakkan pada tempatnya yang tepat. Karena bagaimanapun, Rasulullah SAW bersabda bahwa malu itu sebagian dari iman. Dan saya meyakini bahwa sungguh celaka orang-orang yang mengaku beriman tapi tidak punya rasa malu…

Di perjalanan hidup saya selanjutnya, Saat saya mengutarakan cita-cita saya, bahwa selepas SMA saya ingin bekerja di yayasan anak cacat, Ibu mendukung keinginan saya. Tapi dengan bijak Ibu menyampaikan, bahwa paling tidak saya harus melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, bukan hanya sekedar lulus SMA. Nasihat Ibu, saya harus mempunyai bekal yang cukup untuk mencari pekerjaan, agar saya lebih dihargai, meski bila pada akhirnya saya akan tetap memilih menjadi pekerja di sebuah yayasan anak cacat. Maka saya diberi pilihan, sekolah di keguruan, atau di jurusan perawat. Kata Ibu, keduanya bisa menjadi bekal saya sebagai seorang pekerja sosial maupun kelak bila saya sudah berumahtangga. Dan Ayah menguatkan apa yang dikatakan Ibu kepada saya. Hati saya sungguh sangat tersentuh dan pikiran saya pun terbuka. Ibu dan Ayah, menginginkan yang terbaik untuk saya.

“Ya Allah, sungguh saya sangat beruntung, mempunyai orangtua yang sangat pengertian… Ya Allah, kasihanilah Ibu dan Ayah, sebagaimana mereka mengasihiku semasa kecil hingga sekarang….aamiin.”

Bismillaah, saya memantapkan pilihan untuk melanjutkan sekolah di sebuah akademi keperawatan. Ibu yang awalnya penuh semangat, mengira saya akan memilih keguruan, menjadi galau saat saya mengutarakan pilihan saya. Bagaimana Ibu tidak cemas dengan pilihan saya, pernah saya ikut Ibu menjenguk tetangga yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Tiba-tiba saya pingsan karena tidak tahan melihat selang infus, selang oksigen dan selang kantong urin yang terpasang pada tetangga yang malang tersebut, dan saya tidak tahan melihat pemandangan menyakitkan seperti itu. Saya juga tidak tahan melihat darah. Perut serasa kesemutan, kepala berkunang-kunang, dan tiba-tiba saja saat kesadaran sudah kembali, saya sudah terbaring di tempat tidur pasien di sisi yang lain… Innalillaahi…

Perjalanan hidup terus berlanjut… Akhirnya, atas ijin Allah dan berbekal restu dari ibu dan ayah serta doa dari seluruh keluarga, masuklah saya di sebuah akademi keperawatan di Semarang, hidup jauh dari orang tua dan harus menjalani kehidupan baru di asrama.

Saya yang sebelumnya sangat canggung, kikuk dan pemalu, dihadapkan pada situasi di mana saya harus berhadapan dengan orang-orang baru yang samasekali belum saya kenal serta lingkungan baru yang sungguh sangat berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Sempat saya ingin kembali, namun Alhamdulillaah, dengan segala kebesaran Allah, Allah mempertemukan saya dengan seorang sahabat yang sungguh baik hati, yang kemudian bersamanya kami saling menguatkan dan saling mengingatkan.

Tanpa saya sadari, perlahan, sedikit demi sedikit, saya mulai berubah. Saya mulai memandang diri saya dari sudut pandang yang berbeda. Saya mendapatkan penguatan dari sahabat saya dan orang-orang di sekitar saya, bahwa saya orang yang penuh perhatian, keibuan dan tulus. Perlahan namun pasti, saya mulai melepas baju identitas saya sebelumnya. Dari seorang anak yang sangat pemalu, canggung, kikuk dan tidak pandai bergaul, menjadi orang yang mulai berani mengambil inisiatif membuka sebuah percakapan, memecah kebekuan dan menghidupkan suasana yang menyenangkan melalui sebuah obrolan. Dan saya menyukainya. Alhamdulillaah…

Ada sebuah kebahagiaan tersendiri, manakala ucapan saya ternyata menyentuh hati lawan bicara saya. Dan tanpa saya sadari, ternyata saya pun banyak belajar dari percakapan tersebut. Ada banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari perbincangan dengan orang-orang yang ada di sekeliling saya. Baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal. Dengan bercakap-cakap bersama seseorang, saya seperti membaca sebuah buku besar penuh berisi cerita-cerita. Ada cerita sedih yang kemudian mampu membuat saya terharu dan ikut menangis bersama, banyak pula cerita bahagia, lucu dan cerita-cerita tentang kehidupan lainnya yang kemudian mampu membuka mata batin saya, betapa Allah dengan segala kuasaNya, memberikan cerita kehidupan yang beragam dan berbeda-beda bagi setiap makhluk-Nya. Saya sungguh menikmati sensasi itu. Dan saya merasa, lawan bicara saya pun menikmatinya. Saya suka mendengarkan, sementara lawan bicara saya biasanya sangat suka bicara. Klop.

Kehidupan terus berlanjut. Tanpa terasa, waktu berjalan, tahun berganti. Saya menyukai peran saya sebagai seorang perawat yang memberi motivasi kepada pasien saya. Saya mengabaikan perasaan takut dan jijik manakala saya harus merawat luka dari tubuh yang berdarah-darah, membersihkan pasien yang kotor dan bau, menerima tugas membersihkan spoelhock, membuang feses, urin dan mencuci pispot. Rasa takut dan jijik saya tertutup rasa iba melihat pasien yang tidak berdaya. Dan saya selalu berpikir, seandainya pasien itu adalah saya, maka saya ingin mendapatkan pelayanan dari seorang perawat yang ramah dan baik hati. Dengan memakai sudut pandang dan cara berpikir seperti itu, maka saya berusaha menjadikan diri saya sebagai seorang perawat yang murah senyum dan penuh empati. Bila saya sangat letih dan jenuh dengan banyak tugas yang harus diselesaikan sementara kondisi emosi saya juga sedang tidak stabil, maka kembali saya memikirkan seandainya pasien itu saya, maka saya tidak mau dirawat oleh perawat yang menyebalkan dan uring-uringan….

Sahabat, kembali saya mengingatkan, Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan dan Anda ucapkan. Dan apa yang Anda pikirkan dan ucapkan, itulah yang akan terjadi. Maka berhati-hatilah dengan pikiran dan ucapan kita. Karena apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, itulah yang akan menjadi kenyataan.. Benar, seperti sebuah mantra saja. Hidup kita tiba-tiba saja berubah, baik cepat ataupun lambat, hanya dengan pikiran dan ucapan, yang berulang-ulang kita pikirkan dan kita ucap kan…dan tanpa sadar akhirnya menjadi sebuah keyakinan, bahwa kita memang seperti itu…

Saya menyadari, saya bukanlah manusia yang sempurna. Banyak sisi negatif dan sudut-sudut gelap yang saya punya, dan saya pun masih teramat sering melakukan kesalahan-kesalahan konyol yang tidak semestinya saya lakukan. Terkadang saya kesulitan mengontrol emosi negatif sehingga berimbas tersakitinya hati orang-orang yang ada di sekitar saya. Namun saya pun sangat menyadari, saya mempunyai sisi-sisi positif, sudut-sudut menarik yang membuat banyak orang merasa nyaman berada di dekat saya. Saya mempunyai hati yang lembut dan pengiba. Saya mudah memaafkan kesalahan. Saya juga mempunyai ketulusan sebagai seorang sahabat yang siap untuk mendengarkan segala cerita. Dan ada satu hal yang benar-benar saya yakini, saya mempunyai keyakinan bahwa saya akan merasakan bahagia manakala orang yang ada di dekat saya bahagia. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya seringkali berpikir, andai saya ada di posisi orang yang sedang saya hadapi, bagaimana saya ingin diperlakukan. Maka dengan pemikiran seperti itulah saya mencoba bersikap. Dan kemudian saya akan merasa sangat bahagia manakala orang yang saya hadapi kemudian menunjukkan penerimaan dan ekspresi seperti apa yang saya bayangkan dalam benak saya.

Hari berlalu, waktu terus berjalan, dan tanpa saya sadari, perlahan namun pasti, saya tumbuh menjadi dewasa. Mengikuti garis perjalanan hidup, melewati setiap fase kehidupan, dengan segala lika-likunya.

Kehidupan pun terus berjalan. Kadang sesuai seperti apa yang saya bayangkan dan saya rencanakan, namun seringkali pula jauh melenceng dari apa yang saya dambakan.

Kemudian, ada satu fase di mana saya dihadapkan pada satu situasi permasalahan yang sungguh runyam dan rasanya seperti tak berkesudahan. Waktu itu saya sempat berpikir untuk menyerah dan pasrah dengan apa yang telah terjadi. Apa yang terjadi, terjadilah. Toh semua sudah diatur oleh Allah yang Maha Sempurna. Namun ternyata situasinya sungguh tidak memungkinkan untuk saya mundur dan menyerah dengan keadaan. Saya tahu, setiap pilihan yang saya ambil pasti akan ada konsekuensi dan risiko yang harus saya tanggung. Dan Allah mengingatkan saya di QS Ar-Ro’du ayat 11, bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang sampai orang itu mau mengubah dirinya sendiri. Maka saya lalu memilih bertahan dan berjuang untuk memperbaiki situasi yang ada. Bertahun-tahun kemudian, barulah saya menyadari, ternyata dengan peristiwa itu, Allah sejatinya sedang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar, serta mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif, sehingga setiap permasalahan yang ada, mampu saya sikapi dengan lebih bijak.

Hidup saya penuh masalah. Ibarat kata, tiada hari tanpa masalah. Namun kembali saya mencoba menanamkan keyakinan dalam pikiran saya. Dalam setiap masalah, pasti ada nilai-nilai pembelajaran yang sangat indah untuk bisa dipelajari. Akhirnya saya menikmatinya. Bahkan sangat menikmati. Saya mencoba untuk tidak menganggap masalah sebagai sebuah masalah. Maka bila ada suatu masalah, saya akan mencoba menempatkannya sebagai sebuah tantangan untuk dihadapi dan diurai sehingga dapat diambil sebuah nilai hikmah dan berkahnya. MaasyaaAllaah… ternyata indah sekali!

Dan karena saya berpikir seperti itu, maka saya pun menikmati setiap permasalahan yang saya hadapi dengan penuh semangat dan antusias. Ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri manakala saya ternyata bisa menyelesaikannya dengan baik. Dan rasa yang sangat indah itu tidak akan pernah bisa tergantikan dengan penerimaan uang sebesar apapun…

Sungguh, saya merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan masalah lalu merasakan betapa Allah kemudian menolong saya di saat saya terjepit… Dan sekali lagi, sungguh, perasaan lega, puas dan bahagia itu tidak akan pernah dapat tergantikan dengan jumlah uang sebanyak apapun… Subhanallaah… Itu sebabnya saya menjadi maklum, ada orang yang berusaha mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan dengan mengorbankan semua yang dimilikinya demi mendapatkan perasaan itu. Dia rela mengeluarkan uang sebanyak yang dia punya untuk mengejar apa yang ia yakini sebagai sebuah kebahagiaan. Padahal andai dia tahu bahwa dunia itu semu, pasti dia akan meninggalkan semua itu. Uang dan kebendaan menjadi tidak berarti manakala hati dan pikiran sudah menemukan kebahagiaan sejati….. Alhamdulillaah, sungguh benar janji Allah yang disebutkan di QS Ibrahim ayat 7, bahwa Allah akan menambah nikmat orang-orang yang pandai bersyukur. Dan Allah akan memberikan siksa yang sungguh teramat pedih, kepada orang-orang yang tidak pandai bersyukur…

Sahabat, dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang perawat, saya melihat, banyak orang yang tersiksa dan menderita dengan kondisi sakitnya, erangan dan keluhan tidak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Semua salah di hadapannya. Dan dia pun hidup menjadi sebuah masalah bagi sekelilingnya.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang perawat, saya pun banyak melihat, ada orang yang begitu damai dalam sakitnya. Keikhlasan sepenuhnya terpancar dalam setiap gerak dan sikap serta ucapan yang keluar dari mulutnya semata hanyalah ungkapan syukur kepada Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang… Ia mampu merasakan bahwa sakit yang dideritanya sejatinya adalah sebentuk kasih sayang Allah kepada dirinya. Bahwa sakit tersebut akan melebur dan membersihkan dosanya. Sehingga dengan keyakinan dan pemikiran seperti itu, ia tetap berikhtiar untuk berobat, namun ia pun tetap bertawakkal kepada Allah SWT dan tidak galau dengan kondisi yang ada.. manakala ia harus kembali menghadap Allah karena kondisi sakitnya, ia pun meninggal dalam kondisi yang sangat tenang, nyaman dan penuh keikhlasan…. MaasyaaAllaah…indah sekali.. dan Alhamdulillaah saya sangat beruntung dapat berkesempatan bertemu dengan orang-orang yang seperti itu…

Sahabat, ada banyak peristiwa di sepanjang perjalanan hidup saya yang kemudian membuat saya semakin menyadari bahwa sebenarnya sesuatu yang kita anggap sebagai sebuah masalah, pada hakikatnya bukanlah terletak pada sesuatu itu, namun lebih kepada bagaimana kita melihat dan menerima sesuatu tersebut sehingga kita akan menganggap bahwa sesuatu itu adalah sebuah masalah. Hmm…perlu dibaca pelan-pelan…. Intinya, pada saat kita melihat dan meyakini sesuatu dari sudut pandang yang positif, maka kita pun akan menerima sesuatu tersebut sebagai sebuah hal yang positif. Dan kita akan tetap tenang, senang bahkan menikmatinya. Namun bila kita menganggap sesuatu itu sebagai sebuah masalah, maka tentu saja kita akan menolaknya dan berusaha untuk menghindarinya. Sebuah lontaran kalimat bisa saja dianggap humor yang paling lucu yang membuat seseorang tertawa terbahak-bahak, atau malah sebaliknya, membuat hati menjadi sangat tersinggung dan tersakiti.

Hujan bisa jadi sangat menyedihkan bagi orang yang bersendirian sehabis patah hati, namun hujan pun bisa jadi kenangan yang sangat membahagiakan, manakala kita pernah berjalan di bawah hujan bersama orang yang kita cintai…

Maka pengalaman mengajarkan kepada saya untuk selalu berusaha melihat dari sudut pandang yang positif, dan berpikir dengan cara yang positif, sehingga saya pun akhirnya dapat merasakan hal-hal yang menyenangkan dari suatu peristiwa yang menurut orang lain mungkin sangat menyebalkan.

Demikianlah, kehidupan terus berlanjut, dan hidup harus dijalani. Semakin hari, semakin saya mencintai pekerjaan saya. Alhamdulillaah, segala puji hanya bagi Allah yang senantiasa menguatkan. Saya selalu penuh semangat saat berangkat bekerja. Tak sabar rasanya menunggu kesempatan berikutnya. Selalu ada pelajaran hidup dalam setiap hari di akhir pekerjaan saya. Dan saya sungguh sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk membantu mengurai permasalahan yang ada dalam lingkup pekerjaan saya, sesuai kapasitas dan kewenangan saya. Menghubungi banyak orang untuk saling bekerjasama dan berkoordinasi. Mengembangkan dan melatih kemampuan saya dalam berkomunikasi, sesuatu yang pada masa lalu merupakan momok yang sangat menakutkan bagi saya. Sungguh sebuah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri, yang tidak akan pernah tergantikan dengan uang sebanyak apapun juga…dan saya sangat mensyukurinya.

Sahabat, karena saya berpikir bahwa saya orang yang sangat beruntung, maka saya pun merasa sebagai orang yang sangat beruntung. Maka dengan keberuntungan itulah saya menjalani hari-hari saya, sehingga saya selalu menemukan ada banyak kebahagiaan-kebahagiaan dari hal-hal kecil yang seringkali kita abaikan.

Saya bukan sedang mengajari Anda untuk mencoba berubah dari posisi Anda yang sekarang. Karena pada hakikatnya, hidup itu adalah sebuah pilihan. Anda boleh memilih menderita ataupun bahagia, pada kondisi apapun dan posisi di manapun Anda berada saat ini. Itu hak Anda untuk memutuskan. Namun bila boleh saya menyampaikan, kalau kita bisa memilih untuk bahagia, mengapa kita malah lebih suka memilih untuk menderita? Jangan tunda bahagia kita dengan batasan-batasan, saya akan bahagia bila gaji saya besar, uang saya banyak, keluarga saya utuh, pasangan hidup penuh cinta, pekerjaan sesuai dengan apa yang diharapkan, situasi kita nyaman…atau berjuta sebab lainnya.

Sungguh, Sahabat, bukanlah hal-hal tersebut yang akan menyebabkan kita bahagia, namun penerimaan pada diri kita atas sesuatu itulah yang akan membuat kita bahagia. Rasa syukur kepada Allah atas segala karunia yang ada, serta cara pandang kita yang positif atas segala sesuatu lah yang akan membuat kita bahagia. Itu saja. Sederhana bukan? Cerita saya saja yang bertele-tele. Padahal intinya hanya itu. Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Maka jadilah seperti apa yang Anda mau. OK? Tetap semangat dan jangan lupa untuk tetap bahagia.

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *