Wanita Lemah Penjaga Kebersihan Mesjid

by -46 views

Wanita itu berkulit hitam, miskin, dan tubuhnya lemah. Ia tinggal di Madinah. Ia dipanggil dengan nama Ummu Mahjan. Telah disebutkan di dalam Ash-Shahih tanpa menyebutkan aslinya.

Kemiskinan dan tubuh lemah membuat ia tidak luput dari perhatian Rasulullah Saw sebagai seorang pemimpin. Sebab Rasul senantiasa mengunjungi orang-orang miskin dan menanyai keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka.

Sebagai hamba Allah Swt dan umat Rasulullah, Ummu Mahjan menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar sebagaimana Muslim lainnya. Lantas apa yang bisa dilakukannya padahal ia adalah seorang wanita yang tua, lemah dan miskin?

Namun keterbatasannya tak sedikitpun menjadi alasan untuk tidak menjalankan kewajiban atas perintah dan larangan Tuhannya. Juga tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Karena ia tahu putus asa adalah jalan yang tidak dikenal di hati orang-orang yang beriman.

Keimanan yang tertanam pada jiwa raganya menggerakkan ia melaksanakan kewajibannya meski mungkin itu dianggap hal sepele. Ia senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan di masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Kebersihan masjid selalu ia jaga. Sebab masjid memiliki peran yang sangat urgen bagi kaum muslimin.

Dimasa Rasulullah dan kekhilafahan, masjid menjadi pusat kegiatan bagi masyarakat. Tempat menunaikan shalat, dakwah, mendiskusikan politik, sekolah, dan kegiatan lainnya. Di manapun ajaran Islam berkembang, di situlah bangunan masjid menjulang. Begitulah fungsi masjid yang sesungguhnya dalam Islam. Jelas berbeda dengan kondisi saat ini. Masjid diprivatisasi dan dikomersialisasi.

Untuk itulah Ummu Mahjan selalu melakukan pekerjaan tersebut. Ia ingin berkontribusi dalam perjuangan Rasulullah dan para sahabat untuk agama Allah. Meski hanya membersihkan kotoran di masjid. Demi membuat suasana nyaman bagi Rasulullah Saw dan para sahabat dalam bermusyawarah untuk urusan agama Islam. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan dengan kondisi dirinya.

Ummu Mahjan terus menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga wafat. Saat ia wafat, para sahabat membawa jenazahnya saat malam menjelang. Mereka mendapati Rasulullah masih tertidur. Mereka pun tidak ingin membangunkan Rasul. Sehingga mereka langsung menshalatkan dan menguburkan jenazah Ummu Mahjan.

Keesokan hari Nabi Saw merasa kehilangan wanita itu. Kemudian Rasulullah bertanya kepada para sahabat. Para sahabat menjawab, “Ummu Mahjan telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangimu dan kami dapatkan engkau masih dalam keadaan tidur. Sehingga kami tidak ingin membangunkanmu.” Maka beliau bersabda, “Marilah kita pergi!” Lantas bersama para sahabat, Rasulullah pergi menuju makam Ummu Mahjan. Maka Rasulullah saw berdiri, sementara para sahabat berdiri bershaf-shaf di belakang beliau, kemudian Rasulullah menshalatkannya dan bertakbir empat kali.

Sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra. “Bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah Saw merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah Saw bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah Saw bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah, kemudian Rasul menyalatkannya, lalu bersabda:

“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.” [Lihat al-Ishabah (VIII/187), al-Muwatha’ (I/227), an-Nasa’i (I/9) hadits tersebut mursal, akan tetapi maknanya sesuai dengan hadits yang setelahnya yang bersambung dengan riwayat al-Bukhari dan Muslim.]

Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah. Akan tetapi ia turut berkontribusi untuk agama ini sesuai dengan kemampuannya. Semoga kita bisa belajar dari Ummu Mahjan bahwa tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk agama ini sekalipun itu dianggap sepele. Karena sesuatu yang sepele itu, bisa jadi besar di sisi Allah Swt.

Janganlah kita meremehkan amal kebaikan meskipun itu kecil. Ketahuilah bahwa kita diseru untuk menunaikan kewajiban kita dengan mencurahkan segenap kemampuan dan mengorbankan jiwa raga dalam menegakkan kembali bangunan Islam yang agung. Janganlah sekali-kali kita mengelak dari kewajiban sekalipun hanya sedetik. Karena musuh-musuh Islam tak pernah berhenti membuat makar untuk menghancurkan Islam.

Janganlah kita mundur dari jalan perjuangan ini. Karena merasa lemah, merasa tidak mempunyai kemampuan untuk ikut andil dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam. Tapi ambil bagianlah dalam perjuangan ini. Seperti yang dilakukan oleh Ummu Mahjan. Sebab perkara ini merupakan kewajiban setiap muslim. Kelak dihadapan Allah kita akan ditanya apa yang sudah kita lakukan untuk agama ini? Dan kita akan menerima balasan yang setimpal atas apa yang sudah kita lakukan. Wallahua’lam bishowab.

[Oleh : Meltalia Tumanduk – Berau, 10 Juli 2019]

About me: Administrator

Gravatar Image

Dutabuku.com merupakan portal online artikel, berita dan penulis online yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.